Transplantasi Feses Menjanjikan dalam Meningkatkan Efektivitas Pengobatan Kanker

0
14

Penelitian inovatif menunjukkan bahwa transplantasi mikrobiota tinja (FMT) dapat meningkatkan hasil secara signifikan bagi pasien kanker yang tidak merespons pengobatan imunoterapi standar. Sebuah uji klinis kecil yang berfokus pada pasien kanker ginjal mengungkapkan bahwa mereka yang menerima transplantasi tinja dari individu yang berhasil merespons penghambat checkpoint mengalami stabilisasi tumor yang lebih lama dan tingkat penyusutan tumor yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok plasebo.

Hubungan Usus-Kanker

Mikrobioma usus – komunitas bakteri yang hidup dalam sistem pencernaan – telah muncul sebagai faktor penting dalam keberhasilan pengobatan kanker. Obat imunoterapi, yang disebut penghambat pos pemeriksaan, bergantung pada sistem kekebalan untuk menghancurkan sel kanker, namun obat ini tidak efektif secara universal. Penelitian menunjukkan bahwa komposisi bakteri usus secara langsung mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh, sehingga berpotensi menjelaskan mengapa beberapa pasien memberikan respons sementara yang lain tidak. Hipotesisnya sederhana: mengubah mikrobioma dapat meningkatkan kekebalan dan meningkatkan kemampuan tubuh melawan kanker.

Detail dan Hasil Uji Coba

Para peneliti di Universitas Katolik Hati Kudus di Roma, Italia, mendaftarkan 45 orang dewasa penderita kanker ginjal yang sudah menjalani pengobatan dengan pembrolizumab dan axitinib. Peserta secara acak ditugaskan untuk menerima transplantasi tinja dari pasien remisi kanker atau larutan garam (plasebo) yang diberikan melalui tabung kecil ke dalam usus besar. Dosis selanjutnya diberikan secara oral dalam bentuk pil.

Hasilnya sangat mengejutkan: Kelompok FMT mengalami rata-rata stabilisasi tumor selama dua tahun, dibandingkan hanya sembilan bulan pada kelompok plasebo. Lebih dari separuh penerima FMT mengalami penyusutan tumor, dibandingkan dengan sekitar sepertiga pada kelompok plasebo. Hal ini menunjukkan bahwa FMT dapat meningkatkan efektivitas imunoterapi secara signifikan.

Bagaimana cara kerjanya? Peran Bakteri Usus

Analisis sampel tinja menunjukkan bahwa FMT tampaknya memperkenalkan spesies bakteri utama, terutama Blautia wexlerae, yang menghasilkan asam lemak rantai pendek yang diketahui merangsang sel kekebalan antikanker. Transplantasi ini juga membentuk kembali flora usus yang ada, mengurangi strain inflamasi Escherichia coli yang berbahaya sekaligus meningkatkan kadar Ruminococcus bromii, bakteri lain yang mendorong produksi asam lemak rantai pendek yang bermanfaat.

Temuan ini sejalan dengan uji coba terbaru lainnya, termasuk uji coba yang menunjukkan perbaikan serupa yang didorong oleh FMT pada pasien penderita kanker paru-paru non-sel kecil. Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa FMT bisa efektif melawan berbagai jenis kanker yang responsif terhadap checkpoint inhibitor, termasuk kanker kandung kemih dan kanker kepala dan leher.

Implikasi di Masa Depan

Meskipun menjanjikan, penelitian ini berukuran kecil dan memerlukan konfirmasi melalui uji coba terkontrol secara acak yang lebih besar. Para peneliti juga berfokus pada mengidentifikasi strain bakteri spesifik yang bertanggung jawab atas efek terapeutik, dengan tujuan akhir menciptakan sampel mikroba buatan untuk pengobatan kanker yang terukur.

FMT mewakili perubahan paradigma dalam pendekatan kita terhadap terapi kanker. Dengan memanipulasi mikrobioma usus, dokter akan segera dapat membuka potensi penuh imunoterapi untuk pasien yang lebih luas.