Penelitian Geoengineering: Jalan ke Depan yang Perlu, Bukan Sembrono

0
2

Perdebatan seputar geoengineering—intervensi skala besar yang disengaja terhadap sistem iklim bumi—tidak lagi bersifat teoritis. Ini adalah masalah mendesak yang dihadapi para pembuat kebijakan di seluruh dunia. Meskipun sejarah aksi iklim berakar pada geoengineering yang tidak disengaja melalui emisi bahan bakar fosil, pertanyaannya sekarang adalah apakah kita harus mengeksplorasi intervensi terkendali untuk memitigasi kerusakan lebih lanjut. Memblokir penelitian penting dalam bidang ini akan menjadi kesalahan besar.

Urgensi Eksplorasi

Selama beberapa dekade, umat manusia secara tidak sengaja telah mengubah planet ini dengan melepaskan gas rumah kaca, mengganggu keseimbangan energi bumi, dan memicu putaran umpan balik yang berbahaya. Ini adalah geoengineering yang de facto tanpa niat atau tata kelola. Seperti yang diperingatkan oleh ilmuwan iklim James Hansen, kemungkinan terjadinya bencana pemanasan semakin cepat, dengan mencairnya es, pergeseran awan, dan meningkatnya polusi partikulat yang membuat planet ini semakin gelap.

Masalahnya bukan apakah kita sudah mengubah iklim, tapi apakah kita siap menghadapi konsekuensinya. Upaya mitigasi yang ada saat ini, meskipun penting, tidak cukup untuk mencegah skenario terburuk. Kita memerlukan strategi yang lebih luas yang mencakup adaptasi, ketahanan, dan, yang terpenting, penelitian mendalam mengenai intervensi potensial.

Mengapa Larangan Itu Kontraproduktif

Melarang penelitian geoengineering adalah tindakan yang picik. Penentang baik dari sayap kanan maupun kiri—mulai dari para penganut teori konspirasi hingga mereka yang memandang hal ini sebagai “bahaya moral”—menahan penyelidikan pada saat pengetahuan adalah alat kita yang paling ampuh. Sistem iklim bumi terbukti lebih sensitif terhadap gas rumah kaca dibandingkan perkiraan sebelumnya, dan penurunan emisi tidak cukup cepat.

“Menolak untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan yang berpotensi menyelamatkan nyawa bukanlah kejelasan moral—itu adalah kegagalan moral.”

Menghentikan penelitian tidak menghilangkan kebutuhan akan solusi; hal ini memastikan bahwa keputusan di masa depan akan dibuat dalam keadaan krisis, di bawah tekanan, dan tanpa persiapan.

Jalur ke Depan yang Bertanggung Jawab

Mengeksplorasi intervensi seperti memantulkan sinar matahari dengan partikel atau mencerahkan awan laut dapat mengulur waktu dan menghindari konsekuensi bencana. Ini adalah tindakan sementara, namun patut dipelajari dengan cermat. Program penelitian yang serius memungkinkan opsi-opsi yang kredibel dikembangkan, diuji, dan dibuang secara bertanggung jawab.

Hal ini tidak berarti mengabaikan pengurangan emisi. Mengurangi gas rumah kaca tetap menjadi solusi jangka panjang, dan terdapat tanda-tanda positif bahwa pertumbuhan emisi sedang melambat. Namun, mengingat keterlambatan yang dimulai dan potensi melemahnya siklus karbon alami, kemampuan kita untuk mencegah dampak berbahaya semakin berkurang.

Keharusan Moral

Keadilan iklim menuntut perlindungan masyarakat dari penderitaan. Rencana holistik harus mengintegrasikan mitigasi, adaptasi, dan pengurangan risiko. Perdebatannya bukan apakah akan mengeksplorasi pilihan-pilihan ini, tapi kapan dan oleh siapa. Peluang untuk membentuk proses ini secara aman dan inklusif sudah dekat.

Kita memerlukan para pemimpin, penyandang dana, dan pemerintah untuk terlibat secara konstruktif—bukan untuk menggantikan strategi iklim yang ada, namun untuk melengkapi strategi tersebut. Mengabaikan ide itu mudah; upaya sebenarnya terletak pada mengidentifikasi apa yang sebenarnya bisa membantu, dan mempersiapkan diri sebelum krisis yang semakin parah memaksa kita.

Masa depan bergantung pada pilihan yang terinformasi, bukan reaksi panik. Menghalangi penelitian sekarang hanya akan menjamin masa depan yang lebih berbahaya dan tidak siap.