Seorang astronot veteran NASA, Michael Fincke, mengungkapkan bahwa dia mengalami ketidakmampuan berbicara secara tiba-tiba dan tidak dapat dijelaskan selama misi baru-baru ini di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Insiden medis tersebut mendorong evakuasi dini yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap seluruh tim Crew-11 kembali ke Bumi pada bulan Januari. Meskipun telah dilakukan pengujian ekstensif, para dokter masih bingung dengan kejadian tersebut, yang menurut Fincke kemungkinan besar terkait dengan kondisi unik perjalanan luar angkasa.
Insiden dan Evakuasi Darurat
Pada tanggal 7 Januari, saat makan malam, Fincke tiba-tiba kehilangan kemampuan berbicara. Kondisi yang tiba-tiba ini membuat khawatir rekan krunya – Zena Cardman (NASA), Kimiya Yui (JAXA), dan Oleg Platonov (Roscosmos) – yang memulai prosedur pemulangan darurat. Meskipun astronot dalam keadaan stabil, terbatasnya sumber daya medis yang tersedia di ISS mengharuskan misi 167 hari tersebut dihentikan lebih awal. Ini menandai pertama kalinya dalam 25 tahun sejarah ISS astronot dibawa pulang sebelum waktunya karena masalah medis.
Tim tersebut mendarat di Samudra Pasifik pada tanggal 15 Januari, dan keempat anggota kru menjalani evaluasi medis menyeluruh untuk melindungi privasi astronot yang terkena dampak.
Misteri Medis Semakin Dalam
Fincke menegaskan dalam beberapa wawancara bahwa tes medis telah mengesampingkan penyebab umum seperti serangan jantung atau stroke. Astronot, yang telah menghabiskan total 549 hari di luar angkasa dalam berbagai misi, mengungkapkan rasa frustrasinya karena insiden tersebut masih menjadi misteri.
“Para dokter masih menggaruk-garuk kepala,” kata Fincke kepada NBC News. “Kami hampir 100 persen yakin bahwa ini adalah hal yang berhubungan dengan luar angkasa.”
Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efek jangka panjang dari paparan ruang angkasa dalam waktu lama terhadap fisiologi manusia. Lingkungan ISS menghadirkan tantangan fisiologis yang unik, termasuk paparan radiasi, gayaberat mikro, dan perubahan ritme sirkadian. Meskipun faktor-faktor ini diketahui mempengaruhi kesehatan astronot, sifat dari kondisi Fincke tampaknya merupakan fenomena baru dan saat ini tidak dapat dijelaskan.
Implikasinya terhadap Misi Masa Depan
NASA telah meremehkan insiden tersebut secara terbuka, dan para pejabat dengan bercanda menyarankan Fincke untuk berhenti meminta maaf atas berakhirnya misi tersebut sebelum waktunya. Namun, peristiwa ini menggarisbawahi risiko yang melekat pada penerbangan luar angkasa manusia dan keterbatasan perawatan medis di lingkungan orbit.
Insiden ini menyoroti perlunya peningkatan kemampuan diagnostik di stasiun luar angkasa dan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana lingkungan luar angkasa dapat berdampak pada kesehatan astronot dengan cara yang tidak dapat diprediksi. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa astronot berpengalaman pun bisa rentan terhadap keadaan darurat medis yang tiba-tiba dan tidak dapat dijelaskan saat berada di orbit.
Insiden hilangnya kemampuan bicara Fincke merupakan perkembangan penting dalam kesehatan luar angkasa. Komunitas medis perlu terus meneliti dampak jangka panjang perjalanan ruang angkasa untuk memastikan keselamatan misi di masa depan, terutama ketika umat manusia bersiap untuk tinggal lebih lama di Bulan dan akhirnya melakukan perjalanan ke Mars.
