Peran AI dalam Sains: Akselerasi, Bukan Penggantian

0
3

Kecerdasan buatan dengan cepat diintegrasikan ke dalam penelitian ilmiah, dengan inisiatif seperti Genesis Mission milik pemerintah AS yang bertujuan memanfaatkan AI untuk mempercepat terobosan. Namun, gagasan bahwa AI dapat menggantikan ilmuwan manusia pada dasarnya salah memahami sifat kemajuan ilmu pengetahuan. Meskipun AI unggul dalam memproses data dan mengidentifikasi pola, kemampuannya dibatasi oleh ketergantungannya pada pengetahuan yang dihasilkan manusia dan kualitas unik manusia yang penting bagi penemuan ilmiah sejati.

Batasan Pembelajaran Mesin

Model AI belajar secara eksklusif dari data yang diberikan oleh manusia. Sistem seperti AlphaFold, yang memprediksi struktur protein, menunjukkan kekuatan AI untuk mempercepat analisis namun tidak secara mandiri menciptakan pengetahuan baru. Model-model ini adalah alat yang memperkuat pemahaman yang ada, bukan pembangkit wawasan ilmiah yang otonom. Seperti yang dikatakan oleh filsuf Emily Sullivan, keberhasilan AI bergantung pada hubungan empiris yang kuat dengan pengetahuan yang sudah ada; semakin banyak yang diketahui manusia, semakin baik performa modelnya. Tanpa masukan mendasar dari manusia, keluaran AI tidak akan berarti apa-apa.

Sains sebagai Ikhtiar Manusia

Sains bukan hanya tentang data objektif; ini adalah usaha sosial, kreatif, dan sangat manusiawi. Penemuan struktur heliks ganda DNA, misalnya, pada awalnya tidak memiliki bukti empiris, dan hanya bergantung pada penalaran para ahli yang terlatih. Butuh upaya kolaboratif selama puluhan tahun dan kemajuan teknologi untuk memvalidasi hipotesis tersebut. Kemajuan ilmiah muncul dari perdebatan, ketidaksepakatan, dan kejujuran intelektual bersama – sebuah proses yang melampaui analisis komputasi murni.

Fungsi peneliti lebih seperti kelompok yang kolaboratif dibandingkan pengumpul data yang netral. Mereka tidak hanya mencatat fakta; mereka menciptakan pengetahuan melalui praktik terampil, argumen, dan standar berdasarkan informasi sosial. Elemen inheren manusia ini memastikan bahwa penyelidikan ilmiah tetap berpijak pada tujuan, pengalaman, dan aspirasi bersama.

Jalan ke Depan: AI sebagai Alat, Bukan Pengganti

AI tidak diragukan lagi dapat mempercepat kemajuan ilmu pengetahuan jika diterapkan dengan bijaksana. Alat AI yang dirancang dengan baik dapat menyederhanakan tugas mekanis seperti kompilasi data, desain eksperimen, dan pengumpulan pengukuran. Namun, upaya untuk sepenuhnya mengotomatiskan ilmu pengetahuan atau menggantikan ilmuwan manusia berisiko membuat sains menjadi tiruan dari bentuk aslinya. Legitimasi inti ilmu pengetahuan sebagai sumber pengetahuan bergantung pada kualitas manusia yang mendorongnya.

Kesimpulannya, AI memiliki potensi yang sangat besar sebagai akselerator ilmiah, namun keberhasilannya bergantung pada pelestarian peran penting ilmuwan manusia. Sains bukan hanya tentang apa yang kita ketahui; ini tentang bagaimana kita mengetahuinya, dan proses itu pada dasarnya tetap bersifat manusiawi.