Coelacanth Purba “Mendengar” dengan Paru-parunya, Studi Fosil Terungkap

0
21
Coelacanth Purba “Mendengar” dengan Paru-parunya, Studi Fosil Terungkap

Sebuah analisis baru terhadap fosil coelacanth berusia 240 juta tahun menunjukkan bahwa ikan purba ini memiliki adaptasi sensorik yang luar biasa dan tidak terduga: kemampuan untuk “mendengar” di bawah air menggunakan paru-paru mereka. Penemuan ini memberikan wawasan segar tentang bagaimana vertebrata purba mengamati lingkungannya dan menjelaskan sejarah evolusi pendengaran itu sendiri.

Anatomi Pendengaran Kuno yang Aneh

Coelacanth adalah garis keturunan ikan bersirip lobus dengan catatan fosil berusia lebih dari 400 juta tahun. Mereka penting untuk memahami anatomi vertebrata karena mereka mewakili bentuk peralihan antara ikan dan hewan darat awal. Meskipun dianggap punah selama beberapa dekade, dua spesies coelacanth (Latimeria ) yang masih hidup ditemukan kembali pada abad ke-20, sehingga memicu minat ilmiah baru.

Fosil yang diperiksa – Graulia Branchiodonta dan Loreleia eucingulata dari Triassic France – mengungkapkan paru-paru (tulang) yang mengeras dan mengandung struktur mirip sayap. Pelat-pelat ini menutupi rongga berisi gas. Para peneliti menemukan bahwa paru-paru ini terhubung ke telinga bagian dalam melalui sebuah saluran, membentuk sistem sensorik yang lengkap.

Cara Kerja: Dari Paru-Paru hingga Telinga Bagian Dalam

Menurut penelitian, gelombang suara yang memasuki air akan menggetarkan gas di dalam paru-paru yang mengeras. Getaran ini kemudian akan berjalan melalui saluran langsung ke telinga bagian dalam, memungkinkan coelacanth mendeteksi suara di bawah air.

“Hipotesis kami didasarkan pada analogi dengan ikan air tawar modern seperti ikan mas atau lele,” jelas Luigi Manuelli, mahasiswa doktoral yang terlibat dalam penelitian tersebut. Ikan ini menggunakan sistem serupa yang disebut peralatan Weberian, yang menghubungkan kantung renang ke telinga bagian dalam, sehingga mereka dapat merasakan getaran di bawah air. Gelembung udara di kantung renang sangat penting untuk mendeteksi gelombang ini, yang jika tidak maka akan melewati tubuh ikan tanpa terdeteksi.

Hilangnya Rasa Kuno

Para peneliti berspekulasi bahwa kemampuan pendengaran unik ini hilang ketika nenek moyang coelacanth beradaptasi dengan lingkungan laut yang lebih dalam. Paru-paru mereka mengalami kemunduran, membuat sistem tersebut menjadi kurang diperlukan. Namun, sisa-sisa struktur telinga bagian dalam yang terkait dengan adaptasi sensorik ini masih ada, memberikan petunjuk berharga tentang evolusi ikan di masa lalu.

“Sisa-sisa anatomi ini kini memberikan wawasan berharga mengenai sejarah evolusi ikan ini – dan mungkin juga nenek moyang kita di perairan.” – Profesor Lionel Cavin

Penemuan ini menantang pemahaman tradisional tentang biologi sensorik coelacanth dan menunjukkan bahwa vertebrata awal mungkin telah memanfaatkan adaptasi sensorik yang lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya. Temuan yang dipublikasikan di Communications Biology pada 14 Februari 2026 ini menggarisbawahi pentingnya penelitian fosil untuk mengungkap sejarah kompleks kehidupan di Bumi.