Vaksin Hidung Spektrum Luas Menunjukkan Harapan pada Tikus

0
17

Vaksin eksperimental baru, yang diberikan melalui semprotan hidung, telah menunjukkan perlindungan spektrum luas terhadap virus, bakteri, dan alergen pada tikus laboratorium. Penelitian yang dipublikasikan di Science pada tanggal 19 Februari ini menunjukkan adanya jalur potensial menuju vaksin “universal” yang mampu bertahan melawan berbagai ancaman pernafasan.

Cara Kerja Vaksin Berbeda

Vaksin tradisional berfokus pada pelatihan sistem kekebalan adaptif untuk mengenali antigen spesifik—penanda unik pada patogen. Namun pendekatan ini rentan terhadap mutasi, dimana antigen berubah sehingga membuat vaksin menjadi kurang efektif. Vaksin baru ini menggunakan pendekatan yang berbeda: vaksin ini mengaktifkan baik sistem kekebalan adaptif dan sistem kekebalan bawaan.

Sistem imun bawaan adalah pertahanan lini pertama generik yang merespons dengan cepat terhadap spektrum mikroba yang luas. Tim di balik vaksin ini berupaya memanfaatkan kekuatan ini dengan meniru sinyal dari vaksin tuberkulosis (BCG), yang telah memicu kedua jenis kekebalan tersebut.

Temuan Penting pada Tikus

Para peneliti menemukan bahwa tikus yang diberi tiga dosis semprotan hidung (bernama GLA-3M-052-LS+OVA) selama tiga minggu menunjukkan perlindungan terhadap:

  • SARS-CoV-2 (virus penyebab COVID-19) dan virus corona lainnya
  • Bakteri Staphylococcus aureus dan Acinetobacter baumannii
  • Alergen dari tungau debu rumah

Tikus yang divaksinasi menunjukkan penurunan peradangan paru-paru, penurunan berat badan, dan kematian ketika terkena ancaman ini, dibandingkan dengan tikus yang tidak divaksinasi. Khususnya, respons imun bawaan yang prima juga mempercepat pengembangan respons imun adaptif yang ditargetkan.

Mengapa Ini Penting

Penelitian ini mewakili perubahan dalam strategi vaksin. Meskipun antigen yang sangat terpelihara dapat menargetkan beberapa strain dalam satu keluarga virus, metode ini mengabaikan kebutuhan akan pengenalan antigen spesifik sama sekali.

Implikasinya sangat signifikan: vaksin universal dapat menyederhanakan upaya kesehatan masyarakat, mengurangi kebutuhan vaksinasi flu tahunan, dan berpotensi menawarkan perlindungan terhadap patogen yang muncul sebelum vaksin yang ditargetkan dikembangkan.

Uji Coba pada Manusia Masih Dibutuhkan

Penelitian saat ini dilakukan pada tikus, dan penelitian lebih lanjut sangat penting untuk menentukan keamanan dan kemanjuran pada manusia. Meskipun hasilnya menjanjikan, penerapannya pada manusia memerlukan uji klinis yang ketat.

“Ini adalah penelitian yang sangat menarik,” kata Daniela Ferreira, profesor di Universitas Oxford. “Hal ini dapat mengubah cara kita melindungi orang dari batuk, pilek, dan infeksi saluran pernapasan lainnya” jika dikonfirmasi dalam penelitian pada manusia.

Jalan menuju vaksin universal masih panjang, namun penelitian ini memberikan bukti konsep yang meyakinkan, menyoroti pendekatan baru yang berpotensi merevolusi pengobatan pencegahan.