Air Mars yang Hilang: Teka-teki Planet

0
12

Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah mengetahui bahwa Mars pernah menjadi planet yang jauh lebih basah dibandingkan saat ini. Bukti menunjukkan bahwa di masa lalu terdapat air cair di permukaannya dan atmosfer yang lebih padat dan kaya akan air. Namun, perhitungan kritis terhadap sumber dan kehilangan air menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan: kita masih belum sepenuhnya memahami ke mana perginya semua air di Mars. Ini bukan hanya pertanyaan akademis. Memahami nasib air di Mars sangat penting untuk menilai kelayakan habitatnya di masa lalu – apakah air tersebut dapat mendukung kehidupan – dan untuk merencanakan eksplorasi manusia di masa depan.

Zaman Noachian dan Perbedaan Air

Antara 4,5 dan 3,7 miliar tahun yang lalu, selama Periode Noachian, Mars kemungkinan memiliki cukup air untuk menutupi planet ini di lautan dengan kedalaman 150 hingga 250 meter. Perkiraan mekanisme hilangnya air saat ini – termasuk keluarnya air dari atmosfer, penyerapan ke dalam batuan, dan lapisan es di kutub – hanya memperhitungkan beberapa puluh meter air yang hilang. Saat ini, sisa air di Mars sebagian besar berbentuk es dan mineral terhidrasi, setara dengan lautan global yang kedalamannya hanya 30 meter.

Seperti yang dicatat oleh Bruce Jakosky dari Universitas Colorado Boulder, “Bagaimana Anda bisa melangkah dari jarak 150 meter, mengurangi beberapa puluh [meter] dan mencapai jarak 30 meter? Anda tidak bisa melakukan itu.” Bahkan skenario ekstrem – memaksimalkan masukan dan kehilangan air – gagal menjelaskan sepenuhnya perbedaan tersebut. Hal ini menyiratkan adanya kesenjangan mendasar dalam pemahaman kita tentang hidrologi Mars.

Kemungkinan Penjelasan dan Teori yang Muncul

Beberapa teori mencoba memecahkan teka-teki ini. Beberapa pihak berpendapat bahwa lebih banyak air yang menguap ke luar angkasa daripada perkiraan sebelumnya. Yang lain mengusulkan adanya endapan es bawah tanah yang tersembunyi atau salah tafsir atas interaksi atmosfer. Kemungkinan besar kombinasi dari faktor-faktor ini, serta proses yang belum ditemukan, berkontribusi terhadap hilangnya air.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa siklus hidrologi Mars mungkin sangat berbeda dengan siklus bumi. Eric Hiatt dari Universitas Washington di St. Louis mengusulkan bahwa interaksi air tanah dengan permukaan dan atmosfer mungkin tidak mengikuti pola terestrial. Bethany Ehlmann dari Universitas Colorado Boulder berpendapat bahwa kita mungkin meremehkan jumlah air yang masih ada di Mars saat ini.

Perlunya Kebenaran Dasar

Menyelesaikan misteri ini membutuhkan lebih dari sekedar pemodelan. Jakosky berargumentasi bahwa “hal ini benar-benar membutuhkan sepatu bot di lapangan.” Sementara penjelajah dan pengorbit terus mengumpulkan data, kehadiran manusia di Mars akan memungkinkan dilakukannya analisis geologi langsung dan penyelidikan bawah permukaan yang lebih menyeluruh.

Sayangnya, karena NASA dan SpaceX saat ini fokus pada eksplorasi bulan, misi berawak ke Mars kemungkinan akan memakan waktu beberapa dekade lagi. Untuk saat ini, kemajuan akan bersifat bertahap, dengan mengandalkan penginderaan jauh dan analisis robotik. Pencarian air yang hilang di Mars terus berlanjut – sebuah bukti betapa masih banyak yang belum kita ketahui tentang tetangga planet kita.

Nasib air Mars bukan sekadar pertanyaan sejarah. Hal ini menunjukkan potensi kehidupan masa lalu, kelangsungan pemukiman manusia di masa depan, dan proses mendasar yang membentuk evolusi planet.